Monthly Archives: Desember 2009

Quarterlifecrisis

Awalnya saya bingung, resah, gelisah, siang bagaikan malam dan malam bagaikan siang, sering bertanya-tanya dalam hati whats happen to me? Kok tiba-tiba ketika melihat kanan-kiri (banyak pohon cemara :p) memperhatikan teman satu generasi (kelahiran sekitar 1985) kok ada sesuatu yang rada aneh, rasanya gimana gitu, seerti ada sesuatu yang tidak lazim, serasa ada pergolakan aneh yang muncul dari dalam jiwa ini, saat mereka curhat, taste curhatnya juga mirip, ada tanda-tanda krisis yang sistemik di dalamnya. Setelah melihat kalender, menatapnya dengan mata hati, saya merenungi penampakan tanggal 31 Desember 2009 hari ini. Ternyata besok sudah masuk tahun dimana manusia kelahiran tahun 1985 akan berumur 25 tahun. Twenty something? Ampun ya Allah, astaghfirullahal’adzim, seperempat abad???

Then what is quarter life crisis? Quarter age crisis? or Mid-life crisis? or whatever is it called.

Gajebo, ga jelas bo, abu-abu gitu rasanya. Hidup ini bagai diterpa sesuatu yang mengusik inti kestabilan sistem emosional. Kirain symptoms semacam ini cuma saya yang ngerasain, setelah bertanya ke gudang jawaban (google) segaris senyuman terlukis di wajah saya, sepercik pelangi terlukis di hadapan saya. Trims bang Enda udah nulis tentang ini di blognya, beliau tampaknya udah melewati masa ini (btw tulisannya dibikin tahun 2004 bro). Namanya krisis seperempat baya, alhamdulillah istilahnya bukan krisis seperempat buaya.

Well thats normal, masa transisi katanya, mungkin mirip pubertas waktu remaja atau post power syndrome waktu tua. Ciri-ciri pubertas ya gitu deh, kalo ciri-ciri post power syndrome bisa kita lihat bokap/nyokap atau ayah/ibu atau papah/mamah kita misalnya pasca pensiun (bingung suka marah ga jelas), atau pasca anak-anaknya pada nikah (bingung takut ditinggal sendirian dirumah) dsb. Tapi istilah krisis seperempat baya ternyata gak sepopuler paruh baya (usia 50-an tahun) atau pubertas (usia 13-an tahun). Walhasil life goes on bagi sebagian orang, syukur bagi yang bisa dan mampu menghadapi krisis itu dengan mulus, tapi yang berantakan? gak sedikit juga kan yang loncat dari lantai 3, 4, atau 5 toh, iya toh? Atau yang ini, menikam dosennya, na’udzubillah.

Rasa-rasanya so far so bad, just like I’ve doing nothing, there are nothing has been done by me. Hampa, terpuruk, teriris, kosong, tandus, kering, seperti dunia ini tak lagi menerima aku berpijak diatasnya, hehe. Berputar, jalan ditempat. Helpless, hopeless, loneliness, etceteras. Campur aduk gak jelas, saat masalah yang ini belum selesai, yang ini datang, eh yang itu menanti di hadapan, belum lagi hutang yang kemarin itu. Ya Allah, sesungguhnya permasalahan dan cobaan yang Kau berikan kepadaku ini sesuai dengan kemampuan yang kau titipkan kepadaku untuk menyelesaikannya. Astaghfirullahal’adzim.

Yeah, nobody can go back and start a new begining, but anyone can start today and make a new ending, membaca quotes memang menenangkan, membangkitkan motivasi, serta bisa menstimulus senyuman, tapi kita gak bakal bener-bener ngerti sebelum kita ngerasain “pertempuran” itu, then berusaha menarik pelajaran berharga dari pengalaman-pengalaman kita sendiri. Semua orang yang hidup pasti punya pengalaman hidup, the problem is “ada hikmah yang diambil gak?”. Anyway, “the war” di usia transisi ini bisa jadi tahun-tahun terberat dibanding usia mapan atau usia remaja, masa ini adalah saat-saat remaja akhir pindah ke dewasa awal, saat-saat “mencari-cari” tujuan hidup yang lebih kongkrit, real, dan nyata. Bagi mahasiswa yang baru lulus misalnya mencari pekerjaan – turun dari dunia teori ke dunia praktis, termasuk mencari pasangan hidup – bagi yang masih jomblo, saat-saat transisi memasuki usia “logis” untuk menjadi manusia produktif secara ekonomi, dsb, saat-saat tuntutan sosio-psikologis berdatangan menagih tanggungjawab, sekalipun kuliahnya belum lulus, hehehe. Kok hehehe? (emang siapa yang belum lulus?)

Rights, but do we all feel the same things? menurut wikipedia saat-saat enters the “new world” itu akan kita alami dengan merasakan insecure yang ekstrim, bayangkan memasuki ruangan yang kita sama sekali belum tahu isinya, cuman denger “kata orang”, dan parahnya “kata orang” lebih sedikit menggambarkan sisi positifnya alias lebih banyak yang negatif. Dunia yang “katanya” sangat kompetitif, “katanya” begini dan “katanya” begitu, bahkan “katanya” hidup itu mudah, siapa yang tidak membunuh maka dia akan terbunuh, najis banget kan, sungguh quotation yang sesat dan menyesatkan. Benar-benar sungguh uneducated person! yang dengan yakin mengatakan kalimat ituh.

Seperti keimanan, yazid wa yankusu, naik dan turun, emosi juga turun-naik. Alhamdulillah, sekurang-kurangnya kalau kita memahami “ilmu” tentang quarter life crisis ini, kita bisa selangkah lebih dahulu memahami dan bersiap menghadapi hal-hal yang berkaitan daripada adapun bilamana seandainya ada sesuatu yang berkenaan dengan perilaku emosionil kita yang perlu kiranya diantisipasi nantinya. Apalagi tentang tuntutan ekonomi dan pekerjaan, something about financial security, belum lagi masalah status, apresiasi, dan pengakuan yang secara fitrah menuntut untuk dipenuhi, misalnya romantic relationships dengan seseorang, kiri-kanan kulihat saja banyak teman yang nikah (baca: dengan intonasi lagu naik gunung), dan tentunya hubungan kita dengan lingkungan sekitar, termasuk keluarga, orang tua, kakak, adik, saudara, teman, temannya teman, relasinya teman, orang tuanya teman, teman orang tuanya teman, dst. Semakin jelas positioning kita akan semakin mantap, teguh, dan tegar kita menjalani semuanya, insyaAllah.

Dikutip dari sini, sepenggal perasaan quarter life crisis bisa digambarkan seperti one night stands and random hook ups start to look cheap and getting wasted and acting like an idiot starts to look pathetic. You go through the same emotion and question over and over and talk with your friends about the same topics because you cannot seem to make a decision.

Intinya, we must do something to face this crisis, bangkitlah, harapan itu masih ada, bangunlah badannya, bangunlah jiwanya. Jangan sampai krisis ini berimbas pada kekacauan sosial-ekonomi-politik. Kata pak churchill, “Life can be either be accepted or changed – If it is not accepted, it must be changed. If it cannot be changed, than it must be accepted”. Pilihan kita adalah terima keadaan kita sekarang atau mengubahnya. It is our choices that show what we truly are, far more than our abilities” (JK Rowling).

Menurut informasi yang saya terima, bahwa di akhir tahun 2009 ini akan ada pergantian tahun ke tahun 2010. Akhir kata, selamat tahun baru 2010 bagi yang merayakannya. Bagi yang merenungi waktunya, semoga banyak pelajaran di usia kita. Amin. Semoga bermanfaat.

Iklan
Dengan kaitkata , , , , , , , , ,

Futur

Tertatih langkahku, terengahlah nafasku, terkoyaklah jiwaku, sirna semua azzamku, tenggelam diriku ya Allah dalam pengingkaran pada-Mu, ku semakin jauh ya Allah dari kesucian fitrahku.

Tertatih aku menapaki hidup, tanpa hidayah-Mu, Ya Allah tersesat aku dalam rimba-Mu, dan hatiku haus belaian kasih dari-Mu, berilah cahaya-Mu, arahkan diriku tuk kembali pada jalan-Mu.

(Justice Voice)

Dengan kaitkata

Naik Gunung

Naik naik ke puncak gunung
Tinggi tinggi sekali
Kiri kanan kulihat saja
Banyak pohon cemara

Dengan kaitkata

Membongkar Gurita Cikeas yang Menggurita

George, sontak namanya menggurita di media. Kontroversi selalu berharga untuk di jual, agar yang membingungkan semakin membuat kebingungan orang-orang yang bingung.

Istilah populer “bad news is a good news” semakin terang maknanya, membuat saya semakin memahami bahwa halusinasi dan ilusi bisa dijadikan substansi ilmiah untuk merajut logika dan persepsi, dan asumsi juga bisa menjadi alat untuk mendesain efek “damage” yang besar. And “the damage has been done” even bukunya belum resmi terbit. Entah bagaimana reaksi dari nama-nama yang teriris-iris pedih di hatinya, jika memang teriris perih, ada banyak pilihan bersikap untuk mengobati sakitnya. Di sisi lain, editor dan marketing penerbit buku tersebut terlihat “kesusu” dan bernafsu dengan lagi-lagi “duit” yang bikin ngiler, termasuk mungkin penulis, jejaring distributor, dan pihak terkait. Resiko besar selalu sebanding dengan untung besar, terlepas dari benar-salah substansinya, validitas referensi, serta konteks motivasi yang melatarbelakanginya.

Sebagai “the watch dog” siapapun berhak menggonggong, bersuara untuk menjadi bagian demokrasi, guk, guk, guk.

Dengan kaitkata , , , , , , , ,

Kawah Putih

Dengan kaitkata , , ,

Mengeja Kehidupan

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh?

Bisakah kekecewaan bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis? Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam? Akankah api akan berkobar-korbar lagi? Apakah asap akan membubung lagi dan memenuhi angkasa tanah air? Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain? Jarah-menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan?

Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani?

Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa sesungguhnya yang kita cari? Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita? Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar? Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin? Bisakah kita menumbuhkan kerendahan hati dibalik kebanggaan-kebanggaan kita?

Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata pada diri sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka? Bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia, tetapi juga kita?

Masih tersediakah peluang di dalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan? Meskipun barangkali menyakitkan diri kita sendiri? Mencari hal-hal yang yang benar-benar kita butuhkan, agar supaya sakit kita ini benar-benar sembuh total. Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomor satu bukan yang diluar diri kita, tetapi di dalam diri kita. Yang perlu utama kita lakukan adalah penyembuhan diri yang kita yakini bahwa yang harus betul-betul disembuhkan justru adalah segala sesuatu yang berlaku di dalam hati dan akal pikiran kita.

(Penggalan Pembuka Syair Renungan “Lir-Ilir” – Emha Ainun Najib)

Pakaian adalah akhlaq, pakaian adalah yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya berdirilah di depan pasar dan copotlah pakaianmu, maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci.

(Penggalan Penutup Syair Renungan “Lir-Ilir” – Emha Ainun Najib)

Dengan kaitkata , , , , ,

Menahan Tetes Air Mata

Di saat setiap orang menjauh melihatmu dalam kesedihan
Di masa semua orang meninggalkan dirimu dalam kesendirian
Terasa semakin berat bebanmu
Terasa semakin sesak dadamu
Menghadapi cobaan

Di waktu setiap desah nafasmu terasa berat karena kepedihan
Di kala setiap tetes air matamu terasa berat karena mencoba bertahan
Semua akan ada akhirnya
Semua akan membuatmu berlapang
Menghadapi cobaan

(Shaffix)

Dengan kaitkata

Narasi Pernikahan Ridwan & Noni

Masa lalu mendasari cinta untuk hari ini, sebagaimana pijakan historis menjadi landasan untuk membangun sebuah bangsa.

(This 3 pages writing has been published) 😉

[ Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3 ]

Deeply Inspired by: saudaraku, Alkarami.

Dengan kaitkata ,

Tak Ada (Mahasiswa) yang Abadi

Barusan Googling dengan keywords “mahasiswa abadi” dan “mahasiswa tingkat akhir”, saya nemu dua tulisan menarik yang satu berjudul “Jeritan Mahasiswa Abadi” satu lagi judulnya “Mahasiswa Abadi vs Pengangguran”. Blog tersebut menceritakan pengalaman dan “pahit getir” menanggung beban sosio-psikologis di akhir perkuliahan yang tak kunjung berakhir, selesai, tuntas, atau usai. Yang satu menulis kisahnya ketika ia sedang “ngampus” di tahun yang ke-7, yang satu lagi baru saja lulus tapi kebingungan dengan masalah pekerjaan. Ada juga yang bercerita tentang melodrama dan serunya jadi mahasiswa tingkat akhir. 😕

Teringat judul lagu Peterpan, saya tambahi kata “Mahasiswa” jadilah judul Tak Ada (Mahasiswa) yang Abadi, sekadar untuk menerbitkan motivasi yang mulai terbenam di senja perkuliahan ini kawan. Tapi memang bener kan, gak ada yang abadi, termasuk mahasiswa. Kalaupun “gak” lulus kuliahnya, mungkin DO menjadi pilihannya, atau mungkin “belum” lulus kuliahnya. Di satu sisi posisi yang tampak “serba salah” ini sepenuhnya menjadi konsekuensi atau tanggung jawab mahasiswa yang bersangkutan, di sisi yang lain boleh jadi merupakan akibat “rush” yang disebabkan krisis global yang berdampak sistemik pada sistem diluar individu terkait, hehe, juga di sisi lain mungkin saja ada hal-hal yang secara prinsipil terkait dengan perihal keabadian tersebut. Intinya sih, bukan berarti ngeles semata tapi saya pengen melihat dan melakukan eksplorasi tentang apa saja yang terkait dengan keabadian ini. 😉

Talk about responsbility, ada beberapa istilah terkait dengan responsbility (tanggung jawab). Ada yang namanya individual responsbility, social responsbility, collective responsbility, moral responsbility, professional responsbility, dll. Saya akan coba memetakan “tanggung jawab” dalam rangka mengurai keadilan pada sebuah tuntutan yang mendesak seorang “mahasiswa abadi” untuk menyelesaikan kasusnya (kuliahnya). Karena sering kali tindakan injustice ini sekonyong-konyong menangkap dan memenjarakan mahasiswa-mahasiswa “tua” dengan statement kontra produktif yang bersifat mencemooh, mencerca, mengolok-olok, serta merendahkan. Aksi serampangan ini sering kali tidak melalui proses atau tahapan penyidikan dan penyelidikan dengan cermat, valid, serta seksama, tiba-tiba saja status “mahasiswa menyedihkan” tersebut dijadikan tersangka dan terdakwa tanpa menjadi terduga atau saksi. Sungguh saya telah didesak untuk menandatangani berita acara yang menyatakan bahwa saya telah melakukan kebodohan dan melibatkan diri dalam kriminalisasi diri sendiri atas pekerjaan saya sebagai seorang mahasiswa. 😦

Secara individu, jelas kelulusan yang “meleset” dari waktu yang ideal menjadi tanggung jawab mahasiswa tersebut, bisa jadi akibat kemalasan, tidak fokus kuliah (sambil bekerja, aktif dalam organisasi, dsb), sakit parah,kerusuhan,  gempa bumi, atau mungkin ada hal-hal yang lain yang menjadi hambatan, kendala, persoalan, ataupun pertimbangan mahasiswa yang bersangkutan. Secara sosial, mungkin saja ada permasalahan pada situasi, kondisi, atau atmosfir di lingkungan sosialnya yang turut mendorong “kemelesetan” pada target lulus dalam perkuliahan . Tanggung jawab kolektif (semua pihak terkait) juga bisa memiliki andil dalam keterpurukan ini. Melihat “mahasiswa kasihan” seperti ini biasanya orang-orang bijak dan baik hati akan “terpanggil” jiwanya untuk mengulurkan tangan serta menyingsingkan lengan baju untuk membantu, karena membantu mahasiswa seperti ini menjadi tanggung jawab moral. Dari sisi tanggung jawab profesional, dosen yang profesional pasti mengharapkan dan membantu kelulusan mahasiswa yang dicintainya, karena menumpuknya mahasiswa akhir di kampus akan turut menurunkan “rating” akreditasi kampus, walaupun dari sisi yang berbeda pada dasarnya secara profesional pekerjaan mahasiswa adalah ngampus. Lho? Mahasiswa=Pekerjaan? Lihat saja KTP, mahasiswa adalah jenis pekerjaan, bukan status perkawinan. 🙂

Hehe, sebagai mahasiswa tingkat akhir, ditahun ke 5,5 ini saya minta dukungan spirituil berupa doa, moril berupa senyuman, materil berupa uang 1 Milyar, serta hal-hal lain terkait finishing perkuliahan yang semakin durjana rasanya ini. 😉

Dengan kaitkata , ,

Menikmati Malam yang Hilang

Di lorong sunyi ini aku mengembara dalam lirih
Selintas aku melangkah di ujung Hijriah
Aku pulang ke malam tempatku merindu, di ruang jiwa-jiwa tertunduk
Aku mengangkat beratnya tangan dan membukanya ke cakrawala

Inilah dustaku, inilah rintihku, inilah sesaknya dadaku
Inilah kemunafikanku, inilah racun di kedalaman darahku
Inilah khianat, kufur, dan kesombonganku
Inilah nistaku, kerapuhan jiwa digelegar kemurkaan
Air mata ini di tepian neraka, kubersemayam di selimut ampunan, berlumuran dipenuhi dosa

Di senandung kesucian nama-nama Nya, mereka kembali datang mengulurkan tangan, tapi tak kuasa ku gerakkan langkah-langkah ini, aku tertatih di kilau dunia yang sementara, tak terasa aku menata jalan pulang ke bara api sang neraka, aku berguguran di tengah jalan

Ia berorasi di depan sana, mengeraskan perih suaranya, hanya untukku di belakang sini, jauh di barisan terlemah, sayup-sayup aku menangkap seuntai kalimat, secercah harapan disisa usiaku, inilah malam di sunyi ribuan manusia, di sejumlah pintu keluar yang kembali Ia dirikan untukku

Pusdai, 1 Muharram 1431 H

Dengan kaitkata , ,