My Favourite “Rush” Food

Baru-baru ini saya mendapatkan tekanan ekonomi, tekanan yang begitu mendesak saya agar berpikir kreatif. Hingga celengan pun menjadi target untuk saya sergap, bobol, dan keluarkan isi perutnya. Celengan ini hanya berisi sebagian besar koin atau uang receh sehari hari dari kembalian warung selama 3-4 bulan terakhir. Anda pasti memahami bahwa suatu tekanan ekonomi dapat menyebabkan “rush” hingga stabilitas ekonomi suatu negara bisa tercabik-cabik, subsidi memang perlu dilakukan. Sebagaimana “rush” yang terjadi pada sistem keuangan di dompet saya, mendorong keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menyelamatkan PT. MIPHZ SEJAHTERA, jelas hal ini telah sesuai dengan asas aturan perundang-undangan, asas kewenangan yang sah, serta asas manfaat dan bertanggung jawab. Tanpa bailout, sistem ekonomi di dompet saya dapat runtuh sewaktu-waktu, pemberian bantuan modal dari celengan memang terhitung sangat mendesak dan bukan dibuat-buat layaknya Bank Century.

Sangat miris dan cukup layak disebut menyedihkan, kualitas pangan yang saya konsumsi pun turut menerima akibatnya. Di suatu hari gelap tersebut ada saat yang berkesan, ketika saya memakan kentang, telur, dan teh manis. Saya membeli kentang sebanyak 3 buah di warung seharga Rp.2ooo, dan saya proyeksikan sebagai makanan untuk sarapan. Memang tampak normal, tapi saya memakan ini dengan penuh tekanan, himpitan, serta prahara keuangan. Kentang itu sekaligus saya jadikan hiburan untuk setidaknya membuat seberkas senyuman di wajah, benar juga bahwa jika tekanan kita arahkan ke hal yang positif,maka ide-ide kreatif akan lebih mudah dihasilkan.

Tidak sampai disitu, tetapi termasuk pada saat membeli pulsa dan keperluan-keperluan rutinitas yang lain saya harus memaksakan diri memasang muka setembok-temboknya, membeli dengan uang receh. Setelah kepingan uang koin tersebut saya kumpulkan berdasarkan kategori nominal masing masing, saya mulai mengumpulkan dan men-selotipnya hingga berbentuk nominal Rp. 1000, Rp.2000, dan Rp.5000. Beberapa warung menolak, me-reject tingkah saya, dia kira saya main-main, padahal sebenarnya saya benar-benar kelaparan, hampir saja saya membunuh ibu warung itu, tapi saya tidak tega karena melihat anaknya yang termasuk lucu dan imut.

Alhamdulillah wa syukurillah, benar rasa syukur memang harus menjadi dasar dari pola dan tata perilaku kita, apalagi dalam hal rezeki, dalam hal ini keuangan, dengan kata lain adalah dalam hal atur-mengatur itu “alat tukar”. Setelah dihitung, lebih kurang ada Rp.90.000 uang receh yang terkumpul. Secercah harapan pun muncul, lahirlah kiranya kepermukaan suatu titik cahaya di tengah kegelapan. Sebersit senyuman terlukis di wajah saya, rasa syukur pun terucap, dalam hati saya membatin, “Engkau tak akan membiarkan aku mati kelaparan ya Allah…”

Dengan kaitkata , ,

2 thoughts on “My Favourite “Rush” Food

  1. Arief Rakhman mengatakan:

    tapi ada warung yang malah seneng kan dibayar pke receh? buat kembalian katanya.. hehe..

  2. miphz mengatakan:

    hehe, iya,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: