Omni vs Prita – Jempol vs Kelingking

Suit,

Saat “suit” dijadikan metode untuk mengundi keadilan, maka peraturannya jari telunjuk akan mengalahkan jari kelingking; ibu jari mengalahkan jari telunjuk; dan jari kelingking mengalahkan ibu jari.

Filosofi dibalik “suit” adalah bahwa setiap sesuatu memiliki kelebihan serta kekurangan. Ketidakadilan dapat terjadi misalnya ketika ibu jari atau jempol merasa memiliki kekuatan dibalik fisiknya yang besar hingga lupa bahwa peraturannya -dasar hukumnya- serta norma dan kesepakatan umum dibalik itu semua jari kelingking bisa mengalahkan jempol.

Belum habis dalam ingatan kita tentang analogi cicak vs buaya, kini penyelesaian kasus Omni vs Prita kembali mengudara, sebagaimana dukungan rasa keadilan masyarakat kepada cicak, dukungan kepada Prita kembali berdatangan. Kesalahan besar dalam menafsirkan keadilan adalah sikap memihak kepada sang “pemilik uang”, pemilik materi yang merasa bisa melakukan apapun dengan uang. Nyatanya, keadilan tidak dapat dikendalikan dengan uang.

Ini menjadi pelajaran penting, pelajaran yang sangat penting bagi penegak keadilan. Hukuman publik jauh lebih menyedihkan efeknya. Walaupun publik tidak melakukan pembelaan formal, birokratik, struktural, kita bisa melihat sekeping uang logam bisa merugikan pihak penuntut hingga 700 kali lipat dari Rp. 204 juta. Inilah gelombang keadilan, arus yang akan memaksa pemilik uang untuk memahami arti dan makna dibalik uang. Perlu sikap ekstra hati-hati jika uang dijadikan nilai tukar untuk menilai keadilan.

Dengan kaitkata ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: