Belajar Nulis Tentang Waktu

Feels the interlude, sensasi menikmati waqof, “henti”, beristirahat sejenak dari kesibukan dan rutinitas. Adalah latar belakang dan alasan dari mengapa diperlukannya hari minggu dari putaran 6 hari kerja. Adalah latar belakang dan alasan dari mengapa diadakannya cuti dari setahun kerja. Libur dalam skala tahunan, bulanan, mingguan, hingga harian. Dalam sehari, ada sesi berlibur di luar jam kerja, sepulang dari kerja, ada waktu-waktu yang tetap menuntut untuk dipenuhi haknya, misalnya keluarga, kerabat, teman-teman, juga hak-hak lain yang berkaitan dengan diri kita. Lagi-lagi masalah manajemen.

Miris rasanya, melihat kehidupan dan kebudayaan bangsa asing yang telah terbiasa dengan hal ini, manajemen waktu. Disaat kita sedang membahas tentang manajemen diri, mereka disana sedang mengaplikasikan di kehidupan hariannya mengenai agenda siapa, dimana, jam berapa, keperluan apa, dsb yang telah tercatat rapi. Di saat mereka disana sedang mengembangkan sitem manajemen terpadu, Total Quality Management pada perusahaannya, kita masih berseminar tentang defenisi manajemen.

Berbicara masalah manajemen di lingkup terdekat, di aktivitas harian kita tentang kualitas waktu, ada pentingnya kita mengkaji ungkapan Imam Syafi’i tentang waktu, beliau berkata, “Jika dirimu tidak tersibukkan oleh hal-hal yang baik, maka dirimu pasti tersibukkan oleh hal-hal yang sia-sia”. Betapa banyak orang yang tidak menyadari tentang harga dari waktu yang terus berjalan. Seperti saya dan anda yang sedang membaca tulisan ini. Sebagai analogi yang ironi serta ekstrim, misalnya seorang presiden hari ini memiliki agenda kunjungan ke propinsi A, B, C, dan dilanjutkan mengikuti suatu konferensi di Inggris esok harinya. Di hari yang sama seseorang pengemis stay di sebuah trotoar menunggu “bola” kasihan dari para pejalan kaki selama seharian, dan dilanjutkan di pertigaan lain keesokan harinya. Kita bisa melihat dan membandingkan secara ekstrim kualitas waktu keduanya.

Dua orang berbeda di “waktu” yang sama. Mari kita bahas tentang kualitas waktu dan kesampingkan terlebih dahulu masalah takdir. Bahwa ternyata sang presiden dan sang pengemis sama-sama dilahirkan dalam kondisi bayi, telanjang, menangis, dan tidak membawa apa-apa ke dunia. Kemudian keduanya merangkak, belajar berjalan, lalu menguasai bagaimana berlari dan berbicara di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda.

Pada tahap berikutnya barulah kita bisa melihat, saat sang presiden kecil mulai masuk “lingkungan” sosial yang mebentuk dirinya, sang pengemis kecil juga mulai melakukan hal yang sama. Tapi apa yang terjadi? Mulai tampak perbedaan di antara keduanya. Bahwa sesuatu yang diluar diri mereka turut berperan dalam pembentukan dirinya, disaat yang sama bahwa juga ada benarnya pesan bijak yang berkata “jadinya aku, terserah aku” karena siapa seseorang adalah “apa yang ia lakukan hari ini, membentuk siapa dirinya besok”. Bisa jadi pada saat yang sama saat kecil, sang pengemis bercita-cita menjadi presiden, dan sang presiden bercita-cita bukan menjadi presiden. Namun, perjalanan keduanya pada akhirnya akan sampai pada waktu yang nilainya sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan, bukan sebanding dengan apa yang mereka inginkan.

Kesalahan kita diantaranya terlalu sering mengalah pada argumentasi tentang takdir. Padahal, takdir adalah wilayah abstrak yang baru jelas akan kita ketahui setelah kita melewatinya. Takdir kita adalah apa yang telah kita lakukan satu jam yang lalu, bukan satu jam kedepan. Satu jam kedepan akan kita isi “waktunya” berdasarkan satu jam yang lalu. Pernyataan, “jangan mendahului takdir!” adalah peringatan dan perintah agar kita melakukan sesuatu yang baik secara terus-menerus, agar kita sampai pada takdir yang baik, takdir yang memiliki nilai manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang (analogi presiden), dan jangan sampai waktu kita menjadi rendah kadar manfaatnya, bahkan tidak bernilai, bahkan menjadi beban masyarakat (analogi pengemis).

Dan pengemis bisa berarti subyek ataupun sifat. Semoga kita bisa membuang sifat-sifat pengemis yang sangat buruk dan kontraproduktif bagi diri kita. Sifat pengemis yang identik dengan kemiskinan juga dekat dengan kekufuran, naudzubillahimindzalik. Semoga kita tidak miskin, apalagi memiliki sifat dan mental miskin. Ameeen.😉

Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: