Ironi

Di balik jeruji aku terduduk
Di balik tabir ini aku pernah mencari di manakah ujung sang waktu
Di saat aku menatap jarum detik berputar mengitari semua sudut di ruangan sempit ini

Di saat semua tak lagi berarti
Aku mengubahnya menjadi etalase
Aku menghiasnya dengan fatamorgana
Aku melukisnya dengan segaris ironi

Kembali aku membeku

Aku sebongkah es

Aku keluar dari dinginnya ironi
Menuju hangatnya pagi ditemani secangkir kopi
Hingga mencair kembali

Kini aku air
Mengalir di arusnya
Ke ujung sana, melintasi perih cadas bebatuan, terbawa arus yang entah kemana

Hingga aku menguap ke angkasa menjadi udara
Betapa semuanya, segala itu
Inilah spasi, gelembung maya

Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: