Menikmati Malam yang Hilang

Di lorong sunyi ini aku mengembara dalam lirih
Selintas aku melangkah di ujung Hijriah
Aku pulang ke malam tempatku merindu, di ruang jiwa-jiwa tertunduk
Aku mengangkat beratnya tangan dan membukanya ke cakrawala

Inilah dustaku, inilah rintihku, inilah sesaknya dadaku
Inilah kemunafikanku, inilah racun di kedalaman darahku
Inilah khianat, kufur, dan kesombonganku
Inilah nistaku, kerapuhan jiwa digelegar kemurkaan
Air mata ini di tepian neraka, kubersemayam di selimut ampunan, berlumuran dipenuhi dosa

Di senandung kesucian nama-nama Nya, mereka kembali datang mengulurkan tangan, tapi tak kuasa ku gerakkan langkah-langkah ini, aku tertatih di kilau dunia yang sementara, tak terasa aku menata jalan pulang ke bara api sang neraka, aku berguguran di tengah jalan

Ia berorasi di depan sana, mengeraskan perih suaranya, hanya untukku di belakang sini, jauh di barisan terlemah, sayup-sayup aku menangkap seuntai kalimat, secercah harapan disisa usiaku, inilah malam di sunyi ribuan manusia, di sejumlah pintu keluar yang kembali Ia dirikan untukku

Pusdai, 1 Muharram 1431 H

Dengan kaitkata , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: