Tak Ada (Mahasiswa) yang Abadi

Barusan Googling dengan keywords “mahasiswa abadi” dan “mahasiswa tingkat akhir”, saya nemu dua tulisan menarik yang satu berjudul “Jeritan Mahasiswa Abadi” satu lagi judulnya “Mahasiswa Abadi vs Pengangguran”. Blog tersebut menceritakan pengalaman dan “pahit getir” menanggung beban sosio-psikologis di akhir perkuliahan yang tak kunjung berakhir, selesai, tuntas, atau usai. Yang satu menulis kisahnya ketika ia sedang “ngampus” di tahun yang ke-7, yang satu lagi baru saja lulus tapi kebingungan dengan masalah pekerjaan. Ada juga yang bercerita tentang melodrama dan serunya jadi mahasiswa tingkat akhir.😕

Teringat judul lagu Peterpan, saya tambahi kata “Mahasiswa” jadilah judul Tak Ada (Mahasiswa) yang Abadi, sekadar untuk menerbitkan motivasi yang mulai terbenam di senja perkuliahan ini kawan. Tapi memang bener kan, gak ada yang abadi, termasuk mahasiswa. Kalaupun “gak” lulus kuliahnya, mungkin DO menjadi pilihannya, atau mungkin “belum” lulus kuliahnya. Di satu sisi posisi yang tampak “serba salah” ini sepenuhnya menjadi konsekuensi atau tanggung jawab mahasiswa yang bersangkutan, di sisi yang lain boleh jadi merupakan akibat “rush” yang disebabkan krisis global yang berdampak sistemik pada sistem diluar individu terkait, hehe, juga di sisi lain mungkin saja ada hal-hal yang secara prinsipil terkait dengan perihal keabadian tersebut. Intinya sih, bukan berarti ngeles semata tapi saya pengen melihat dan melakukan eksplorasi tentang apa saja yang terkait dengan keabadian ini.😉

Talk about responsbility, ada beberapa istilah terkait dengan responsbility (tanggung jawab). Ada yang namanya individual responsbility, social responsbility, collective responsbility, moral responsbility, professional responsbility, dll. Saya akan coba memetakan “tanggung jawab” dalam rangka mengurai keadilan pada sebuah tuntutan yang mendesak seorang “mahasiswa abadi” untuk menyelesaikan kasusnya (kuliahnya). Karena sering kali tindakan injustice ini sekonyong-konyong menangkap dan memenjarakan mahasiswa-mahasiswa “tua” dengan statement kontra produktif yang bersifat mencemooh, mencerca, mengolok-olok, serta merendahkan. Aksi serampangan ini sering kali tidak melalui proses atau tahapan penyidikan dan penyelidikan dengan cermat, valid, serta seksama, tiba-tiba saja status “mahasiswa menyedihkan” tersebut dijadikan tersangka dan terdakwa tanpa menjadi terduga atau saksi. Sungguh saya telah didesak untuk menandatangani berita acara yang menyatakan bahwa saya telah melakukan kebodohan dan melibatkan diri dalam kriminalisasi diri sendiri atas pekerjaan saya sebagai seorang mahasiswa.😦

Secara individu, jelas kelulusan yang “meleset” dari waktu yang ideal menjadi tanggung jawab mahasiswa tersebut, bisa jadi akibat kemalasan, tidak fokus kuliah (sambil bekerja, aktif dalam organisasi, dsb), sakit parah,kerusuhan,  gempa bumi, atau mungkin ada hal-hal yang lain yang menjadi hambatan, kendala, persoalan, ataupun pertimbangan mahasiswa yang bersangkutan. Secara sosial, mungkin saja ada permasalahan pada situasi, kondisi, atau atmosfir di lingkungan sosialnya yang turut mendorong “kemelesetan” pada target lulus dalam perkuliahan . Tanggung jawab kolektif (semua pihak terkait) juga bisa memiliki andil dalam keterpurukan ini. Melihat “mahasiswa kasihan” seperti ini biasanya orang-orang bijak dan baik hati akan “terpanggil” jiwanya untuk mengulurkan tangan serta menyingsingkan lengan baju untuk membantu, karena membantu mahasiswa seperti ini menjadi tanggung jawab moral. Dari sisi tanggung jawab profesional, dosen yang profesional pasti mengharapkan dan membantu kelulusan mahasiswa yang dicintainya, karena menumpuknya mahasiswa akhir di kampus akan turut menurunkan “rating” akreditasi kampus, walaupun dari sisi yang berbeda pada dasarnya secara profesional pekerjaan mahasiswa adalah ngampus. Lho? Mahasiswa=Pekerjaan? Lihat saja KTP, mahasiswa adalah jenis pekerjaan, bukan status perkawinan.🙂

Hehe, sebagai mahasiswa tingkat akhir, ditahun ke 5,5 ini saya minta dukungan spirituil berupa doa, moril berupa senyuman, materil berupa uang 1 Milyar, serta hal-hal lain terkait finishing perkuliahan yang semakin durjana rasanya ini.😉

Dengan kaitkata , ,

6 thoughts on “Tak Ada (Mahasiswa) yang Abadi

  1. ichazutto mengatakan:

    hanya bisa tertawa saja..hahaha..😄

  2. ree_sha mengatakan:

    hanya bisa mendoakan …heuehue..

    kebut lah bang seminar 1 2 ma sidangnya…

    just enjoy d process

  3. […] Yeah, nobody can go back and start a new begining, but anyone can start today and make a new ending, membaca quotes memang menenangkan, membangkitkan motivasi, serta bisa menstimulus senyuman, tapi kita gak bakal bener-bener ngerti sebelum kita ngerasain “pertempuran” itu, then berusaha menarik pelajaran berharga dari pengalaman-pengalaman kita sendiri. Semua orang yang hidup pasti punya pengalaman hidup, the problem is “ada hikmah yang diambil gak?”. Anyway, “the war” di usia transisi ini bisa jadi tahun-tahun terberat dibanding usia mapan atau usia remaja, masa ini adalah saat-saat remaja akhir pindah ke dewasa awal, saat-saat “mencari-cari” tujuan hidup yang lebih kongkrit, real, dan nyata. Bagi mahasiswa yang baru lulus misalnya mencari pekerjaan – turun dari dunia teori ke dunia praktis, termasuk mencari pasangan hidup – bagi yang masih jomblo, saat-saat transisi memasuki usia “logis” untuk menjadi manusia produktif secara ekonomi, dsb, saat-saat tuntutan sosio-psikologis berdatangan menagih tanggungjawab, sekalipun kuliahnya belum lulus, hehehe. Kok hehehe? (emang siapa yang belum lulus?) […]

  4. pelangiituaku mengatakan:

    …temen-temen, mampir
    iah ke blogkuuu, aku lagi ikutan lomba blog niihh,jangan lupa kasih
    coment iahhh,, kontribusi kalian sangat berarti …langsung klik ini
    iah : http://pelangiituaku.wordpress.com/2010/05/10/seorang-cowok-menjaga-kesehatn-kulit-wajar-nggak-sih/ … semangat blogger 2010 !!!! …

  5. herman mengatakan:

    Assalamu’alaikum… Numpang Miphz, sadaya aya waktosna… semangat,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: