Mengeja Kehidupan

Bisakah luka yang teramat dalam ini nanti akan sembuh?

Bisakah kekecewaan bahkan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis? Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi dari jurang yang teramat curam dan dalam? Akankah api akan berkobar-korbar lagi? Apakah asap akan membubung lagi dan memenuhi angkasa tanah air? Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain? Jarah-menjarah satu sama lain dengan pengorbanan yang tidak akan terkirakan?

Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani?

Bersediakah kita sebenarnya untuk tahu persis apa sesungguhnya yang kita cari? Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita? Pernahkah kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar? Pernahkah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu disesali dari perilaku-perilaku kita yang kemarin? Bisakah kita menumbuhkan kerendahan hati dibalik kebanggaan-kebanggaan kita?

Masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata pada diri sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka? Bahwa yang melakukan dosa bukan hanya ia, tetapi juga kita?

Masih tersediakah peluang di dalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan? Meskipun barangkali menyakitkan diri kita sendiri? Mencari hal-hal yang yang benar-benar kita butuhkan, agar supaya sakit kita ini benar-benar sembuh total. Sekurang-kurangnya dengan perasaan santai kepada diri sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan itu nomor satu bukan yang diluar diri kita, tetapi di dalam diri kita. Yang perlu utama kita lakukan adalah penyembuhan diri yang kita yakini bahwa yang harus betul-betul disembuhkan justru adalah segala sesuatu yang berlaku di dalam hati dan akal pikiran kita.

(Penggalan Pembuka Syair Renungan “Lir-Ilir” – Emha Ainun Najib)

Pakaian adalah akhlaq, pakaian adalah yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya berdirilah di depan pasar dan copotlah pakaianmu, maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci.

(Penggalan Penutup Syair Renungan “Lir-Ilir” – Emha Ainun Najib)

Dengan kaitkata , , , , ,

One thought on “Mengeja Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: