Quarterlifecrisis

Awalnya saya bingung, resah, gelisah, siang bagaikan malam dan malam bagaikan siang, sering bertanya-tanya dalam hati whats happen to me? Kok tiba-tiba ketika melihat kanan-kiri (banyak pohon cemara :p) memperhatikan teman satu generasi (kelahiran sekitar 1985) kok ada sesuatu yang rada aneh, rasanya gimana gitu, seerti ada sesuatu yang tidak lazim, serasa ada pergolakan aneh yang muncul dari dalam jiwa ini, saat mereka curhat, taste curhatnya juga mirip, ada tanda-tanda krisis yang sistemik di dalamnya. Setelah melihat kalender, menatapnya dengan mata hati, saya merenungi penampakan tanggal 31 Desember 2009 hari ini. Ternyata besok sudah masuk tahun dimana manusia kelahiran tahun 1985 akan berumur 25 tahun. Twenty something? Ampun ya Allah, astaghfirullahal’adzim, seperempat abad???

Then what is quarter life crisis? Quarter age crisis? or Mid-life crisis? or whatever is it called.

Gajebo, ga jelas bo, abu-abu gitu rasanya. Hidup ini bagai diterpa sesuatu yang mengusik inti kestabilan sistem emosional. Kirain symptoms semacam ini cuma saya yang ngerasain, setelah bertanya ke gudang jawaban (google) segaris senyuman terlukis di wajah saya, sepercik pelangi terlukis di hadapan saya. Trims bang Enda udah nulis tentang ini di blognya, beliau tampaknya udah melewati masa ini (btw tulisannya dibikin tahun 2004 bro). Namanya krisis seperempat baya, alhamdulillah istilahnya bukan krisis seperempat buaya.

Well thats normal, masa transisi katanya, mungkin mirip pubertas waktu remaja atau post power syndrome waktu tua. Ciri-ciri pubertas ya gitu deh, kalo ciri-ciri post power syndrome bisa kita lihat bokap/nyokap atau ayah/ibu atau papah/mamah kita misalnya pasca pensiun (bingung suka marah ga jelas), atau pasca anak-anaknya pada nikah (bingung takut ditinggal sendirian dirumah) dsb. Tapi istilah krisis seperempat baya ternyata gak sepopuler paruh baya (usia 50-an tahun) atau pubertas (usia 13-an tahun). Walhasil life goes on bagi sebagian orang, syukur bagi yang bisa dan mampu menghadapi krisis itu dengan mulus, tapi yang berantakan? gak sedikit juga kan yang loncat dari lantai 3, 4, atau 5 toh, iya toh? Atau yang ini, menikam dosennya, na’udzubillah.

Rasa-rasanya so far so bad, just like I’ve doing nothing, there are nothing has been done by me. Hampa, terpuruk, teriris, kosong, tandus, kering, seperti dunia ini tak lagi menerima aku berpijak diatasnya, hehe. Berputar, jalan ditempat. Helpless, hopeless, loneliness, etceteras. Campur aduk gak jelas, saat masalah yang ini belum selesai, yang ini datang, eh yang itu menanti di hadapan, belum lagi hutang yang kemarin itu. Ya Allah, sesungguhnya permasalahan dan cobaan yang Kau berikan kepadaku ini sesuai dengan kemampuan yang kau titipkan kepadaku untuk menyelesaikannya. Astaghfirullahal’adzim.

Yeah, nobody can go back and start a new begining, but anyone can start today and make a new ending, membaca quotes memang menenangkan, membangkitkan motivasi, serta bisa menstimulus senyuman, tapi kita gak bakal bener-bener ngerti sebelum kita ngerasain “pertempuran” itu, then berusaha menarik pelajaran berharga dari pengalaman-pengalaman kita sendiri. Semua orang yang hidup pasti punya pengalaman hidup, the problem is “ada hikmah yang diambil gak?”. Anyway, “the war” di usia transisi ini bisa jadi tahun-tahun terberat dibanding usia mapan atau usia remaja, masa ini adalah saat-saat remaja akhir pindah ke dewasa awal, saat-saat “mencari-cari” tujuan hidup yang lebih kongkrit, real, dan nyata. Bagi mahasiswa yang baru lulus misalnya mencari pekerjaan – turun dari dunia teori ke dunia praktis, termasuk mencari pasangan hidup – bagi yang masih jomblo, saat-saat transisi memasuki usia “logis” untuk menjadi manusia produktif secara ekonomi, dsb, saat-saat tuntutan sosio-psikologis berdatangan menagih tanggungjawab, sekalipun kuliahnya belum lulus, hehehe. Kok hehehe? (emang siapa yang belum lulus?)

Rights, but do we all feel the same things? menurut wikipedia saat-saat enters the “new world” itu akan kita alami dengan merasakan insecure yang ekstrim, bayangkan memasuki ruangan yang kita sama sekali belum tahu isinya, cuman denger “kata orang”, dan parahnya “kata orang” lebih sedikit menggambarkan sisi positifnya alias lebih banyak yang negatif. Dunia yang “katanya” sangat kompetitif, “katanya” begini dan “katanya” begitu, bahkan “katanya” hidup itu mudah, siapa yang tidak membunuh maka dia akan terbunuh, najis banget kan, sungguh quotation yang sesat dan menyesatkan. Benar-benar sungguh uneducated person! yang dengan yakin mengatakan kalimat ituh.

Seperti keimanan, yazid wa yankusu, naik dan turun, emosi juga turun-naik. Alhamdulillah, sekurang-kurangnya kalau kita memahami “ilmu” tentang quarter life crisis ini, kita bisa selangkah lebih dahulu memahami dan bersiap menghadapi hal-hal yang berkaitan daripada adapun bilamana seandainya ada sesuatu yang berkenaan dengan perilaku emosionil kita yang perlu kiranya diantisipasi nantinya. Apalagi tentang tuntutan ekonomi dan pekerjaan, something about financial security, belum lagi masalah status, apresiasi, dan pengakuan yang secara fitrah menuntut untuk dipenuhi, misalnya romantic relationships dengan seseorang, kiri-kanan kulihat saja banyak teman yang nikah (baca: dengan intonasi lagu naik gunung), dan tentunya hubungan kita dengan lingkungan sekitar, termasuk keluarga, orang tua, kakak, adik, saudara, teman, temannya teman, relasinya teman, orang tuanya teman, teman orang tuanya teman, dst. Semakin jelas positioning kita akan semakin mantap, teguh, dan tegar kita menjalani semuanya, insyaAllah.

Dikutip dari sini, sepenggal perasaan quarter life crisis bisa digambarkan seperti one night stands and random hook ups start to look cheap and getting wasted and acting like an idiot starts to look pathetic. You go through the same emotion and question over and over and talk with your friends about the same topics because you cannot seem to make a decision.

Intinya, we must do something to face this crisis, bangkitlah, harapan itu masih ada, bangunlah badannya, bangunlah jiwanya. Jangan sampai krisis ini berimbas pada kekacauan sosial-ekonomi-politik. Kata pak churchill, “Life can be either be accepted or changed – If it is not accepted, it must be changed. If it cannot be changed, than it must be accepted”. Pilihan kita adalah terima keadaan kita sekarang atau mengubahnya. It is our choices that show what we truly are, far more than our abilities” (JK Rowling).

Menurut informasi yang saya terima, bahwa di akhir tahun 2009 ini akan ada pergantian tahun ke tahun 2010. Akhir kata, selamat tahun baru 2010 bagi yang merayakannya. Bagi yang merenungi waktunya, semoga banyak pelajaran di usia kita. Amin. Semoga bermanfaat.

Dengan kaitkata , , , , , , , , ,

16 thoughts on “Quarterlifecrisis

  1. hasmah mengatakan:

    topik bagus. menginspirasi.. walopun di 2010 usia sy ud 25 lebih🙂

  2. miphz mengatakan:

    Quarter (1/4) di quarterlifecrisis (psikologi) range-nya mulai twenty something – thirty something, usia dua puluh awal sampai tiga puluh awal lho.🙂

    Mirip di human development (biologi) range buat meneliti perkembangan manusia, remaja/abg (13-20 tahun), early adulthood/dewasa awal (21-39 tahun), middle adulthood/tengah baya (40-59 tahun), 60+ dewasa akhir.

  3. Rindu mengatakan:

    sudah 2x baca masih belum ngerti, crisis apa sih yang dimaksud?🙂

  4. miphz mengatakan:

    makasih ud mampir mbak rindu, wah masa sih, krisis, maksudnya tekanan psikologis/semacam stress/perasaan aneh yg dirasain ketika terjadi perubahan di tahapan perkembangan kehidupan/usia kita gt deh😉 kata wikipedia sih masa-masa transisi gt

  5. Rindu mengatakan:

    Usia transisi itu usia 25 tahun yah… kayanya Ade kena sindrom itu🙂

  6. iRa_bio UI 05 mengatakan:

    kMip boleh ku copas yaa..tenkyu😀

  7. djghina mengatakan:

    itu dia mas..banyak juga yang ndak ngeh klo krisis macam ni udah mengerogoti semangatnya sendiri, kebanyakan berencana tetapi lupa menikmati setiap harinya..ketika kita makin sering bersyukur InsyaAllah banyak jalan terbuka

  8. Leny mengatakan:

    hiks hiks hiks…. lagi ngalamin nih QLC nih…😦

    super banget postingannya….
    ijin unduh ya mas mip…

  9. erick azof mengatakan:

    thx ya miphz, gw jadi bisa baca artikel ini..🙂 and thx da isi koment d blog gw..hehe
    sukses selalu..
    semoga selalu bermanfaat..

  10. […] postingan ini saya unduh di Miphz’ blog semoga dapat bermanfaat yah..terutama untuk temen2 yang sedang mengalami quarter life […]

  11. […] kerasa 2 tahun lalu pernah nulis tentang  quarterlife crisis, lalu membayangkan setelah lulus kuliah mau ngapain. Sekarang nulis tentang masa-masa transisi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: