Diberi Maksud yang Membumi

Lihatlah cahaya-Nya yang tertutup itu saudaraku, terhalang oleh bumi. Apakah hati kita telah tertutup dari hidayah-Nya?

Waktu berlalu, detik berganti, hari beralih, usia pun kikis. Berguguranlah sudah setakar dedaun kering kehidupan, kini bergantilah masa depan yang semakin mendekati kematian. Tanpa perlu lagi menjerit memuliakan, membakar hingar yang sebenarnya tak patut dianggap raya, apalagi dipestai lagi di hura-hurakan. Tanpa harus mejadikannya penting, sesungguhnya peralihan demi peralihan tak perlu lagi kiranya dinikmati memakai warna-warni ledakan gempita dengan asap yang meninggi. Cukuplah ditandai saja, lalu diberi maksud yang membumi, diberi alasan yang mendasar, bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, cukup.

Akhir tahun ini bangsa kita diingatkan banyak kejadian penting untuk merayakan tahun baru dari inti pusat kesadaran. Wafatnya tokoh kiyai Abdurrahman Wahid pada 30 Desember 2009 membuat kita merenungi jejak historis perjuangan seorang muslim yang bangsawan, media pun mengharuskan diri untuk turut berduka cita – tidak semata bersuka cita. Dua minggu sebelumnya kita bertemu dengan tahun baru Islam 1431 Hijriyah dengan berdzikir, merefleksi keimanan kita di jejak historis sang Nabi. Tanggal 1 januari 2010 pada pukul 02.50 kuasa-Nya kembali mengangkasa di langit melalui gerhana bulan parsial. ‘Afala tatafakkarun? 😕

Gerhana bulan (mungkin) terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan (hati kita) tertutup oleh bayangan bumi (tabir kemaksiatan). Itu (mungkin) terjadi bila bumi (keduniawian/kemaksiatan/nafsu berlebih-lebihan kita) berada di antara matahari (cahaya hidayah-Nya) dan bulan (hati kita) pada satu garis lurus yang sama (fitrah keimanan), sehingga sinar matahari (hidayah-Nya) tidak dapat mencapai bulan (hati kita) karena terhalangi oleh bumi (sifat-sifat kesombongan/angkuh kita/menafsui dunia).😦

Untuk sesiapapun, di ujung manapun, berwujud saudara, teman, teman baik, teman jahat, teman dermawan, teman lama, teman yang enerjik, teman yang pemalas, teman yang menyebalkan, teman yang humoris, teman yang pendiam, teman yang belum bayar hutang, kekasih, kekasih idaman, calon kekasih, keluarga, sejawat, kerabat, sanak saudara, tante, famili, kakak, kakek, adik, relasi, sahabat, orang tua, orang muda, isteri, calon isteri, suami, calon suami, ayah, ibu, mertua, keponakan, sepupu, bibi, uwak, om, tulang, pakde, bude, serta diri kita atau ke-aku-an di inti sistem “egoisme” kita haruslah, mestinya, seyogianya berangkat dari terminal itu, bahwa hari ini janganlah lebih buruk dari hari kemarin, merugi, kata Nabi.

Selamat hari ke 16 Muharam 1431 H, semoga hari-hari kita dirahmati dan diselamatkan, pun semoga duniawi dan ukhrawi kita dilimpahi keberkahan, amin. Ataukah selamat tahun baru 2010, dan semoga pesta kembang api kita dimeriahkan? Apapun kalendernya, semoga ada hikmah di waktu kita.

miphz,

1 Januari 2010

Dengan kaitkata , , , , , ,

6 thoughts on “Diberi Maksud yang Membumi

  1. Shobirin Muhammad mengatakan:

    Selamat tahun baru 1431 Hijriah / 2009 M. Semoga senantiasa bisa me-REFLEKSI semua yang berlalu agar ke depan menjadi lebih baik. Semoga bisa menemukan INJEKSI semangat dan cita-cita baru yang mengafinitasi kesuksesan di tahun depan.

  2. Andari mengatakan:

    Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi kecuali untuk menunjukkan kebesaranNya bagi orang-orang yang berpikir…

  3. bocahbancar mengatakan:

    Hhhmm….Bahasamu keren mas….
    Meliuk2 bak ombak di lautan….

    Salam semangat selalu di tahun yang baru ini….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: