Preman Parkir atau Tukang Parkir?

Terlepas dari permasalahan total pendapatan pungli se-Indonesia yang sampai triliunan rupiah pertahun itu, terlepas dari perda yang mengatur retribusi parkir, terlepas dari tututan ekonomi yang mengharuskan mereka mejadi tukang parkir, tentang yang ini atau yang itu. Tetap saja saya cukup kesal jika mau sholat harus bayar parkir, ke ATM yg cuma 30 detik saya harus bayar parkir, dan beginilah kadang-kadang cara saya bersikap.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah parkir di Indomaret, biasanya di Indomaret atau mini market yang lain kan bebas parkir tuh, alias gak bayar parkir. Nah, waktu selesai belanja dan mau pergi, seorang tukang parkir mendekat ke arah saya yang sudah naik di atas motor. Dengan bergaya “sibuk” dan sedikit tergesa-gesa, saya tatap matanya, saya senyum sambil mengangguk, dan langsung tancap gas pergi. Hehe, berhasil kabur gak bayar parkir lagi. Entah apa maksud saya waktu itu mengangguk, mungkin semacam menyampaikan pesan persetujuan kalau parkir di sini tidak seharusnya bayar.

Baru saja hari ini saya mampir ke masjid Salman ITB untuk sholat Magrib. Hujan deras telah reda berganti sedikit gerimis, jalanan basah dan gelap, hanya ada sedikit penerangan dari lampu penjual gorengan di sekitar tempat parkir. Saya parkir motor di depan masjid Salman ITB.

Sambil mengunci motor saya melihat seseorang sedang memperhatikan saya, sepertinya Ia ingin menunjukkan “kuasa” nya atas wilayah parkir itu. Bertopi, memakai kaos hitam, celana 3/4, tingginya sekitar 165cm, usianya sekitar 20-an tahun, wajahnya bulat, tatapannya tajam. Ia menghadap ke arah saya, jaraknya sekitar 4 meter dari posisi saya yang sedang mengunci motor. Ia berdiri disana lalu maju selangkah ke arah saya. Laki-laki itu berusaha memberikan pesan menggunakan bahasa tubuhnya, “Ini teritori saya! Ini tanah saya! Maka dengan ini saya berhak menerima uang dari setiap kendaraan yang berhenti diatsnya!” Tanpa berpikir panjang saya langsung berjalan menuju masjid.

Selesai sholat, saya kembali ke tempat parkir sambil berpikir dengan perasaan yang tidak enak, “yang tadi itu tukang parkir bukan ya?” Sampai di tempat parkir saya langsung membuka kunci motor, lalu membuka jok unuk mengambil helm. Tiba-tiba terdengar jejak kaki berjalan mendekati saya dari arah belakang. Saya membatin ingin tahu siapa di belakang saya, malas rasanya menoleh ke belakang. Jaraknya sekitar 2 meter dari tempat saya berdiri, bayangannya semakin mendekati saya. Lalu Ia berjalan ke samping saya, Ia pun menatap mata saya dengan peluit yang belum Ia tiup di mulutnya, ternyata tukang parkir. Saya mengerti maksudnya, saya merogoh kantong, mengambil dompet dan mencari uang receh. Saya biasa menunjukkan sikap berlama-lama mencari uang receh sambil menunjukkan ekspresi wajah kesal kepada setiap tukang-tukang parkir yang “preman” itu.

Tiba-tiba ada sebuah mobil yang parkir di ujung jalan dan lampu merah remnya menyala, disusul dengan nyala lampu putih. Si tukang parkir yang sedang menunggu “jatah” dari saya berkata, “tunggu sebentar ya”. Ia pun berlari mendekati Honda CRV hitam itu. Motor saya sudah siap meluncur, ia masih saja sibuk “terus, terus, terus!” di belakang mobil sport itu. Tanpa pikir panjang, dengan kekesalan yang sudah cukup panjang, spontan saya meng-gas motor di posisi netral dengan cukup kencang, lalu masuk gigi satu dan langsung pergi tanpa menoleh ke belakang. Bye, bye.

Setelah mampir ke beberapa blog seperti ini, ini, ini, dan ini, ternyata saya tidak sendiri, banyak juga blogger yang punya kegelisahan yang sama, eneg sama tukang parkir ilegal. Ada juga tukang parkir resmi tapi  berlagak preman seperti ini di ITB. Kalo oknum sih gak masalah, nyatanya tukang parkir sudah jadi profesi yang memformalkan premanisme. Kalau duitnya jelas ke negara sih gak masalah. Maaf jika mungkin tulisan ini menyinggung  para blogger  sekalian yang berprofesi sebagai tukang parkir, sekali lagi maaf.😉

Dengan kaitkata ,

2 thoughts on “Preman Parkir atau Tukang Parkir?

  1. fege mengatakan:

    Kunjungan balik.
    Blognya asyikk nih.

    huehehehe…gaya kejam ne ceritanya saat menghadapi tukang parkir.

  2. miphz mengatakan:

    Kejam style, hehe, grrr

    Kalo ada yang mau, bisa tuh kumpulin club motor/geng motor buat demo ke tukang parkir, hehe😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: