Narasi Pernikahan Ridwan dan Noni (2/3)

Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka, demikianlah prinsip pertama koperasi. Hari itu Ridwan mulai merintis karir organisasinya sebagai anggota KOPMA (Koperasi Mahasiswa) FPTK. Seiring waktu, iapun dipercaya menjadi Ketua KOPMA FPTK. Dunia wirausaha menjadi hal yang sangat menarik hatinya. Di ruang yang berbeda, Noni pun merintis hal yang sama. Ia menjadi anggota KOPMA, kecermatannya dalam menyusun agenda kegiatan membuat Noni dipercaya menjadi sekretaris umum KOPMA FPIPS. Mereka berada di dalam bangunan yang sama, namun di ruang yang berbeda. Waktu terus berjalan, kegiatan organisasi pun demikian. Sifat sukarela dan terbuka menjadi keseharian, menginspirasi langkah keduanya.

Pengelolaan dilakukan secara demokratis, inilah prinsip kedua koperasi. Suara para anggota dan sikap kritisnya mengantarkan Ridwan menjadi Ketua Bidang Usaha Jasa di KOPMA UPI. Di ruang yang berbeda, suara para anggota juga mengantarkan Noni menjadi Pengawas di KOPMA FPIPS. Ridwan memimpin anggotanya di pusat, Ridwan pun melihat bagaimana Noni mengawasi kinerja pengurus KOPMA di daerah. Waktu terus berlalu, Ridwan sempat menjabat sebagai Ketua Bidang Usaha Perdagangan hingga akhirnya ia berada di puncak karirnya sebagai Ketua Pengawas KOPMA UPI. Kini mereka di ruang yang sama, Noni diberi amanah sebagai anggota pengawas KOPMA UPI yang dipimpin oleh Ridwan, Ridwan mengarahkan dan mengkoordinasikan langkah-langkah anggotanya, Noni dengan teratur membantu Ridwan. Di ruang yang sama, di meja diskusi yang satu, di balik lemari tempat piala-piala penghargaan KOPMA yang bersejarah itu, mereka mencurahkan waktu, pikiran, dan tenaga bersama angota yang lain. Dinaungi visi, misi, dan agenda yang serupa, tak terasa keduanya telah melalui banyak hal bersama.

Suatu ketika di tahun 2007, di kesibukan organisasi yang sedemikian rupa, Ridwan dan Noni belum saling mengenal dekat. Keduanya terlibat di kepanitiaan pada kegiatan Diklat Menengah Koperasi. Ridwan sebagai sekretaris umum, ia menyusun acara, Noni sebagai penanggung jawab logistik, ia mengatur keuangan.

Di hari pertama acara pelatihan yang berlangsung selama 3 hari tersebut Noni kebingungan, ia resah, ia kehilangan sesuatu, ia gelisah, tempat pensilnya hilang dan uang logistik tersimpan disana. Terjalar pelangi diiris gerimis, terbias warna di wajahnya, kemelut melanda tiada berkesudahan, Ia merintih. Ia meminta, memohon bantuan kepada siapa saja di ruangan itu agar menemukannya. Acara itu bergantung pada dana operasional. Ruangan itu menjadi gelisah, sesaat semua kegiatan menjadi musnah. Berderailah air mata. Teman-temanya berusaha menghibur, “kalau yang nemuin perempuan jadi saudaranya, kalau laki-laki yang nemuin jadi suaminya”.

Jauh di kedalaman hatinya, Noni membatin dalam situasi penuh tekanan, tak sengaja ia berdoa dan berjanji dalam hati, “siapa yang menemukan dompet itu, akan ku terima sebagai pasangan hidupku.”

Partisipasi anggota, prinsip ke tiga koperasi. Ridwan sedang beres-beres di ruangan panitia, ia menyapu setiap sudut ruangan. Di ruangan itu ada banyak panitia lain, semuanya berpartisipasi membantu mencari. Tapi hanya seorang yang menemukan kresek hitam itu, bungkusan plastik dimana tempat pensil berhias lafadz “Allah” itu tersembunyi. Saat senja berganti malam, gelisah semakin tandus di sudut hati, sang purnama pun hadir untuk menerangi. Ridwan menemukannya, ia serahkan kepada Noni. Ruangan itu menjadi lega, benih harapan tersemai kembali. Pergilah derita, hadirlah cahaya. Noni mengucap syukur, ia sangat berterimakasih pada seisi ruangan, khususnya Ridwan, dan Ridwan pun tersenyum. Dibalik senyumannya, Ridwan menahan amarah, Ia bersabar dan tetap fokus pada agenda kegiatan.

Segaris resultan perasaan itu pun muncul, keduanya saling mencipta determinasi di dalam hati, membangun sistem nilai yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua.

Berpadunya hati dikesejukan rimbun keberkahan, menghimpun langkah di jagad kehidupan, mengalirlah lambang kesucian di sungai kesetiaan. Ujian serta cobaan di terik setiap rangkai percik hikmahNya akan memandu di liku perjalanan. Bersemayamlah segenggam kekuatan, azzam untuk menuju gerbang pernikahan.

Dengan kaitkata ,

3 thoughts on “Narasi Pernikahan Ridwan dan Noni (2/3)

  1. […] Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3 […]

  2. winy mengatakan:

    Apakah sinambungnya dr ridwan yg menahan amarah ke resultan rasa yg membawa pd prnikahan? Malah jd brtanya, marah knp?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: