Narasi Pernikahan Ridwan dan Noni (3/3)

“Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding yang lain, ia tidak menyukai seseorang kecuali karena Allah, dan ia tidak ingin terjerumus dalam kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilempar ke dalam kobaran api neraka” (HR.Bukhari-Muslim)

Kerinduan itu semakin menjerit, setapak demi setapak telah menjejak di sejarah, isyarat demi isyarat datang silih berganti, kesabaran perjuangan di setiap duri kehidupan telah dilalui, pahit dan tangisan menghiasi setiap langkah, namun ia masih menyimpan tanya demi tanya, dimanakah ketenangan itu? dimanakah kebahagiaan itu? dimanakah kasih sayang, cinta, dan pengorbanan yang sesungguhnya?

Ilahi Rabbi, Kaulah yang Kuasa penuhi segala pinta, kumengharap Kau sudi teteskan rahmatMu, damai ini milikMu, resapkan perlahan disetiap bilah hatiku ya Allah, sungguh hanya Engkau yang tahu segala yang terbaik bagiku.

Setengah tahun setelah Ridwan menuntaskan pendidikannya, setengah tahun setelah ia diwisuda, ia berketetapan hati untuk melengkapi setengah jiwanya, ia berkomitmen untuk memenuhi separuh agamanya. Enam bulan lamanya ia berpeluh membangun usaha sembari merajut pengalaman bekerja di Studio Cilaki Empat Lima.

Pendidikan dan pelatihan, adalah prinsip ke lima koperasi. Sudah cukup rasanya ia membangun infrastruktur untuk berumah tangga, ilmu dan kafa’ah (kesanggupan) telah ia miliki. Kini Ia meneguhkan hatinya untuk melangkah. Ia tidak ingin menunggu. Ia melanjutkan kata hatinya, lebih cepat lebih baik katanya. Tapi Noni masih kuliah, statusnya masih mahasiswa.

Dua hari setelah Idul Fitri 1430 H, Oktober 2009. Silaturahim dua keluarga pun berlangsung, dua latar belakang yang berbeda itu menyatu, berdiskusi, saling berusaha memahami, hingga akhirnya menyetujui keinginan putra dan putri mereka.

Otonomi, kemandirian, serta kebebasan, menjadi prinsip ke empat koperasi. Ridwan bersama keluarganya sudah berada di depan rumah Noni. Ridwan membawa satu keping koin strategi yang memiliki dua sisi yang saling melengkapi, kepingan koin itu a serahkan hanya kepada Allah semata, Sang Maha Penjawab Segala Pinta. Plan A bersilaturahim – mengenal – merajut ukhuwah. Plan B Ia siapkan untuk melamar – mengkhitbah – mengikat janji. Ridwan menatap rumah itu, ia mengetuk pintu, menunggu pintu itu terbuka sambil terus berdoa. Sebagai seorang pemuda, Ridwan memiliki hak untuk menentukan masa depannya. Di tengah doanya, keluarga Ridwan pun disambut kehadirannya oleh keluarga Noni. Di kehangatan ruangan itu, koin terus berputar di porosnya.

Kerjasama, adalah prinsip ke enam koperasi. Awalnya keluarga Noni menghendaki penyelesaian kuliah Noni terlebih dahulu, namun kasih sayang serta kesepahaman mampu mengubahnya menjadi kesepakatan. Awalnya, kesepakatan pertemuan dua keluarga itu hanya untuk saling mengenal. Noni takut dengan sikap Ayahnya selama ini, Ia khawatir ketidaksetujuan dari Ayahnya mengemuka di pertemuan itu. Namun Ayahnya berkata diiringi senyuman di sela tanya di pertemuan itu, “Ya gimana Noni saja, Ayah setuju, terserah Noni” Segaris keindahan mengangkasa, tabir telah terbuka,  kebahagiaan, kelegaan, kelapangan tercipta dan menghentikan putaran koin itu dengan izin dari-Nya. Keluarga Noni meng-iya-kan dan bersepakat di awan keniscayaan, bahwa kasih dan sayangNya selalu menyertai hamba-hambaNya.

November 2009, setelah Idul Adha. Keluarga Ridwan bertamu kembali ke rumah Noni. Dalam rangka technical meeting, membahas, mengkaji, mengukur, menakar, mengestimasi serta menetapkan kapan, dimana, bagaimana, dan seterusnya tentang hari bersejarah itu, tentang hari-H, hari yang akan menjadi saksi dimana sepasang insan akan mengakhiri status lajangnya.

“Pernikahan adalah penenang jiwa dan kesenangan kepada istri, yaitu tatkala bersanding dengannya, memandang, dan bercanda. Pernikahan juga menentramkan hati dan menambah kekuatan untuk beribadah. Karena jiwa itu mudah jemu lalu menghindari kebenaran. Sebab ia berbeda dengan tabiatnya. Andaikata jiwa terus-menerus dibebani sesuatu yang kurang disukai, maka ia akan berteriak dan lari. Namun jika sesekali waktu dihibur dengan kesenangan, maka ia menjadi kuat dan semangat.” (Imam Al-Ghazali)

9 Januari 2009. Sebagaimana Adam dan Hawa yang dipertemukan di Jabal Rahmah, hari ini seseorang telah menemukan belahan jiwanya. Mereka berjanji dalam rahmat dan kasih-Nya akan mengarungi bahtera rumah tangga.

Di jagad percintaan, berdasar Alquran, kitab yang menjadi tolak ukur berkehidupan, bahwa pernikahan, secara substansial adalah akad, yaitu menghubungkan suatu kehendak yang terjadi antara suatu pihak dengan pihak lain dalam suatu bentuk yang menyebabkan adanya kewajiban untuk melakukan suatu hal. Dua pihak ini wajib bertransaksi, saling memberi dan menerima dalam konteks beribadah kepada Allah semata.

Kepedulian terhadap masyarakat, sebagai prinsip ke tujuh koperasi. Undangan telah disebarkan, hari ini pernikahan pun dilangsungkan, prosesi walimatul ursy diadakan, dengan hikmat dilaksanakanlah perayaan itu. Kerabat, teman sejawat, serta masyarakat berdatangan. Kini mereka berdampingan di pelaminan, restu terucapkan, doa dan syukur mengalir. Kebahagiaan, kedamaian, cinta dan kasih sayang, harapan, serta keyakinan berpadu di atas kesucian syariat-Nya, melaksanakan perintah Sang Maha Cinta. Barakallaulaka wa baraka ‘alaika bainakuma fi khairin. Tiada satupun yang tak terencana, daun yang jatuh, hujan yang turun, semua telah dilukiskan. Hari ini lukisan pernikahan itu telah digariskan. Semoga keduanya tetap dalam limpahan keberkahan. Amin.

Ya Allah,
Andai Kau berkenan, limpahkanlah rasa cinta kepada kami,
Yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al Qubro
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra
Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.

Ya Allah,
Andai semua itu tak layak bagi kami,
Maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridlo-Mu
Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat,
Saling menjaga kehormatan dikala jauh,
Saling menghibur dikala duka,
Saling mengingatkan dikala bahagia,
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan,
Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan.

Ya Allah,
Sempurnakanlah kebahagiaan kami
Dengan menjadikan perkawinan kami ini sebagai ibadah kepada-Mu
Dan bukti ketaatan kami kepada sunnah Rasul-Mu.

(Do’a Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putrinya Fatimah Azzahra dengan Ali bin Abi Thalib)

[ miphz ]
Bandung, Desember 2009 – Januari 2010

Dengan kaitkata ,

6 thoughts on “Narasi Pernikahan Ridwan dan Noni (3/3)

  1. […] Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3 […]

  2. iRa_izZati mengatakan:

    wew..so sweet..

    btw awalnya gimana tu kMip? R emang uda ada feeling sm N ya? hehe *pertanyaan bodoh*

  3. iRa_izZati mengatakan:

    srius nanya ni kMip..
    soalnya klo di UI sringnya ky gitu.. wkwkwk😛

  4. iRa_izZati mengatakan:

    yeah… sudah kuduga :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: