Memorandum Untuk Calon Isteriku

Subhanallah, teruntuk engkau seseorang yang di sudut sana, sungguh disini aku memiliki sebuah gagasan, seuntai ide untuk menjembatani perasaan wajar, normal, dan humanis yang muncul secara de facto dari dasar qalbu setiap manusia.

Disaat dua hati harus lebur, dimana kekasih mencipta keluasan jiwa, kelonggaran mental, dan kecerdasan pikiran untuk selalu melihat sisi baik dari kepribadian dan perilaku kekasihnya. Ketika prasangka baik dan kesiagaan bersyukur selalu menjadi perangkat utama dalam menentukan sikap terhadap pihak yang dikasihinya. Untuk menunaikan sekeping harkat penghambaan yang semata hanya kepadaNya.

Proposal ini mengandung esensi kesepakatan yang demikian besar, dengan estimasi posisi tawar terbaik dari keniscayaan yang dimiliki masing-masing pihak. Hal ini akan menjadi akar acuan kemaslahatan keluarga kita nantinya. Cukuplah rasanya kesejatian yang menumpu bangunan legitimasi fakta-fakta ketertarikan diantara kita, sekaligus menjadikannya ekspektasi untuk setakar kemuliaan, keceriaan, kebahagiaan, dan canda tawa yang akan menghias setapak hidup kita kedepan.

Janganlah seyogianya kelak ada friksi dari persoalan substansial yang mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan hubungan kita yang telah terikat di simpul suci pernikahan. Kalaupun harus ada yang beda, maka tentunya haruslah ada yang sama. Sekurang-kurangnya kita harus terbiasa untuk mampu melihat kedalam diri sendiri, mengurai ketimpangan apa saja yang wajib diakui, dan melihat ke luar, menyelidiki kebenaran apa saja yang menjadi fakta diri kita.

Wahai (calon) kekasih, marilah kiranya kita berdua mendedikasikan hidup ke seluruh pelosok dunia, karena setiap manusia adalah komponen semesta, sosok yang diberi mandat untuk meneruskan rahmat ke penjuru alam.  Tentu saja dalam batas toleransi kesanggupan masing-masing pihak, dalam koridor saling menyelamatkan dan tolong menolong dalam skala yang beragam. Maka jasad, gubuk, kendaraan, pekerjaan, faktor sosial, perangkat ekonomi, langkah-langkah harian kita, sawah, kebun, uang, bahasa, kosa kata, mahkota, dan tata hati kita, diorientasikan semata hanya di garis kehendakNya.

Kasihku, walau engkau disana tak sedang melakukan riset yang serupa atas persoalan yang sama dengaku, dengan segala ketidakmengertianku disini, aku berusaha melayangkan sepucuk nilai luhur yang semoga tak sampai mengharuskanmu meneteskan air mata untuk bersepakat denganku, tak mesti membuatmu mengerenyitkan dahi untuk memahami maksud dari ini semua. Aku tetap yakin bahwa koalisi kita kedepan akan berada di mainstream yang sama. Kebersamaan kita akan telukis di kanvas yang satu, bahwa segala realitas harus kita bangun selaras dengan keharmonisan di segenap asmaNya yang mutakhir, agar hidup yang sesaat di interval dunia ini kita tidak tersesat, supaya kita bisa kembali dengan selamat kepada Yang Maha Abadi. Semoga. Amin. Amin. Amin ya Allah.

miphz, di malam sunyi, januari 2010

Dengan kaitkata , , , , , , ,

10 thoughts on “Memorandum Untuk Calon Isteriku

  1. vedmudz mengatakan:

    Subhanallah…bagus artikelnya…
    like this deh hehehe…

  2. miphz mengatakan:

    Subhanallah walhamdulillah, ngungkapin cinta pake tata bahasa tingkat langit🙂

  3. Aku tak pandai berkata-kata,
    hanya dengan untaian kalimat sederhana, ku ungkapkan makna terdalam di jiwa,

    (Dan, dua orang yang saling mencinta karena Allah, berkumpul karena-Nya
    dan berpisah karena-Nya : Al-Hadist)

    Subhanallah..

  4. vedmudz mengatakan:

    kalau artikel seperti ini enak bacanya..
    ga seperti artikel yang tadi aku baca..
    bener2 penghinaan terhadap islam..
    sedih banget..(-_-‘)

    • miphz mengatakan:

      Iya yah, tambah banyak artikel/blog yang berusaha menyudutkan Islam.😕 Tapi Islam tetaplah Islam, Dien yang akan tetap terjaga, dan tak akan berkurang kemuliaannya karena penghinaan. Semoga kita ndak ikut terprovokasi. Kalo saya sih, kalo liat artikel kaya gitu, langsung close aja…

  5. nurdiyanti mengatakan:

    Assalamu’alaykum akhi…

    nice posting,hehe…
    semoga cepat menemukan jodoh dunia akhirat, istri yang sholihah… amin.. biar bisa dibaca segera ma calonnya,hehe…

    hamasah

  6. din2 mengatakan:

    great, miph!

  7. […] atau bernarasi seperti ini atau ini pun tidak lantas membuat you ujug-ujug menikah. Karena menikah itu KEPUTUSAN. Jadi ke KUA […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: