Ingin Menjadi Kuli Bangunan

Well, I just got a feel to write. It’s very cold here, extreemly cold morning. Awan mendung terlukis di segala jarak pandang. Dingin, awan hitam menyimpan seribu ton air yang siap terjun kapan saja. Gelap, cahaya matahari terhalang awan. Dingin, angin dingin menerpa setiap permukaan dedaunan, pohon-pohon menari, rantingnya melambai-lambai kedinginan. Reseptor di pori-pori kulitku menerima stimulus, ia sampaikan pesan ke otak melalui neuron, hangatkan dirimu. Otot-ototku mengencang, ia berusaha membakar kalori untuk menghangatkanku. Hembusan angin semakin kencang. Aku menggigil. Dingin.

Pria-pria bertopi itu terus bekerja, mereka datang sejak pagi. Kaos yang mereka pakai terlihat lusuh, seadanya. Di atas lahan miring itu mereka sedang membuat pondasi sebuah rumah. Di beberapa bagian, kolom-kolom struktur telah berdiri kokoh. Aku memperhatikan mereka dari lantai dua, dari teras kamarku. Sejenak, aku memutar beberapa file memori di kepalaku. Sesaat, aku merekonstruksi perasaan di sudut hatiku.

“Menjadi seorang kuli, tinggal di gubuk kayu, makan sepiring nasi, hidup bahagia bersama anak isteri, lalu mati”.

Menjadi kuli sepertinya menarik hatiku, betapa setiap batu bata yang ku pasang akan menjadi dinding-dinding kamar dengan tempat tidur berselimut tebal, sebuah ruangan hangat yang akan ditempati orang lain. Sebagai kuli yang atap rumahnya bocor, yang terus bersyukur telah diberi kesempatan membangunkan rumah untuk para kaya raya. Mereka, yang masih berkemampuan untuk mensyukuri keadaannya.

Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: