Jika Kita Menggunakan Jika

Di suatu pagi yang cerah, ada seorang ayah yang berpesan kepada anaknya yang masih duduk di bangku kelas 3  SD, “Nak, pulang dari sekolah jangan ke diskotik ya…” Anak kecil itu pun berkata pada orang tuanya dengan santai, “Ayahku, goal is what we define, passion is what we believe, and life is what God creates“. Sang ayah pun menjawab, “Hey kids, go run without a destination, and you’ll finally see, what “freedom” can be.

Pre-wedding itu haram? Tentu saja tidak, karena jika tanpa ada pre-wedding maka tidak akan ada itu wedding.

Foto pre-wedding itu haram? Tentulah tidak, karena jika foto pre-wedding-nya dilakukan pasca-wedding.

Rebonding itu haram? Tentu saja tidak, karena jika bilamana supaya adanya barangkali daripada hal-hal yang berkaitan dengan perihal yang berkenaan  dengan sesuatu itu perlu direbonding, misalnya jika tidak direbonding maka seseorang dipastikan akan meninggal.

Cat rambut itu haram? Tentulah tidak, karena jika rambut siapa dulu itu yang di cat?

Tukang ojek wanita itu haram? Tentu saja tidak, karena jika tukang ojek wanita itu membonceng ibunya sendiri.

Makan daging babi itu haram? Tentulah tidak, karena jika tak ada lagi makanan selain babi untuk dimakan.

Membunuh itu haram? Tentu saja tidak, karena jika membunuh untuk membela diri.

Bunuh diri itu haram? Tentulah tidak, karena jika bunuh diri itu disyariatkan oleh Sang Maha Pemilik Diri.

Facebook itu haram? Tentu saja tidak, karena jika Facebook itu ternyata adalah merek sebungkus kripik singkong yang dibikin dengan metodologi yang halal, dan tentunya bukan kripik singkong curian, karena haram.

Makan ayam goreng halal atau haram? Tentulah belum tentu, karena jika ayam curian, ya haram. Kalau seseorang mentraktir makan ayam goreng sementara teman yang ditraktirnya hanya dikasih makan tempe, lain lagi hukumnya. Makan ayam goreng secara demonstratif di depan orang berpuasa malah bisa haram, bisa makruh, bisa sunnah. Haram karena menghina orang beribadah. Makruh karena bikin ngiri orang berpuasa. Sunnah karena ia berjasa menguji kesabaran orang berpuasa. [Emha]

Fatwa itu apa? Marilah kita telusuri, urai, dan kaji. Kenapa fatwa selalu bermasalah? Kenapa harus ada hitam dan putih? Dia jualah yang mencipta indahnya warna pelangi bukan? Kenapa ada hukum? Syariat itu untuk siapa? Barangkali kita perlu telaah apa itu halal dan apa itu haram?

Dahulu ketika Hiroshima-Nagasaki dibom atom, Ulama Indonesia sigap melontarkan fatwa bahwa memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia itu wajib, sehingga masuk neraka bagi siapa saja yang menolak 17 Agustus 1945.

Dahulu Sumpah Pemuda itu fardlu ‘ain kewajiban bagi setiap orang, kalau tidak bersumpah bergabung dalam persatuan Indonesia haram hukumnya.

Andaikan makhluk yang bernama “fatwa” sudah sejak dulu menemani bangsa Indonesia, tentu masyarakat kita menjadi terbiasa “dengannya”, sehingga tidak mudah “marah-marah” seperti yang hari-hari ini terjadi. [Sumber]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya sikap manusia, baik yang berbentuk perkataan ataupun perbuatan ada dua macam, pertama ibadah untuk kemaslahatan agamanya, dan kedua kebiasaan yang sangat mereka butuhkan demi kemaslahatan dunia mereka.”

Ada kaidah fiqih yang perlu kita pegang untuk memahami hal ini, bahwa segala sesuatu adalah halal (mubah) kecuali ada dalil tegas yang mengharamkannya. Apa sajakah batasan “terpaksa” yang membolehkan yang haram? Lalu muncullah pertanyaan apa sih dalil (ketetapan) itu? Siapa yang paling berhak menentukan dalil? Dan siapa pula yang berani menjamin ketepatan konteks dalil itu? Lalu siapa yang paling berwenang menentukan hukum?

“Dialah Zat yang menjadikan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya.” (al-Baqarah: 29)

dan

“Sungguh Allah telah menerangkan kepada kamu apa yang Ia haramkan atas kamu.” (al-An’am: 119)

Setelah jelas peta dan tata berpikir kita, barulah dan marilah diperdebatkan jika perdebatan memang bermuara pada kedamaian. Atau marilah kita perbincangkan persoalan ini dengan muara yang satu, dijalan yang satu, menuju pada Yang Maha Satu.

Dengan kaitkata , , ,

4 thoughts on “Jika Kita Menggunakan Jika

  1. idisuwardi mengatakan:

    […]Facebook itu haram? Tentulah tidak, karena jika Facebook itu ternyata adalah merek sebuah makanan yang berlabel halal.[…]

    hahaha…:-D lucu juga ya kalau nama facebook jadi label sebuah makanan…bisa laris abis tuh makanan.

  2. Aulia mengatakan:

    hmmm…tulisan ringan dan penuh inspiratif. saya suka tulisan seperti ini…
    semoga bisa berkunjung lagi ke sini🙂

  3. beruangqutub mengatakan:

    like this lah….

  4. miphz mengatakan:

    @Idisuwardi, kan ada tuh martabak obama, marilah dibikun kripik Facebook… hehe:)

    @Aulia, terimakasih,mari saling berkunjung…

    @beruangqutub,🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: