Berkelahi

Imagine all the people living life in peace. You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one. I hope someday you’ll join us, and the world will live as one – John Lennon

Menjalani hidup ternyata susah-susah gampang, ada kalanya susah menggelisahkan dan ada kalanya gampang nan dimudahkan. Rintangan silih berganti, ada saja persoalan yang menanti, grafiknyapun naik-turun bak nilai investasi, tapi mudah-mudahan secara keseluruhan naik terus, amin. Hari ini lebih buruk dari hari kemarin itu merugi kata Nabi. Dalam suka duka kehidupan, mau tidak mau kita akan terus menghadapi rantai persoalan, pun bahkan sejak lahir, mungkin kita pernah dengar, “karena malas terjun ke dunia, bayi yang tidak punya dosa saja langsung nangis waktu lahir”. Nah, kalau pas lahir ketawa? Perlu di catat di Guinness Books of Records kayaknya.

We make war that we may live in peace – Aristotle

Sejak dulu orang bicara perdamaian, tapi sebenarnya mereka tidak pernah bicara tentang konflik. Rasanya bukan manusia kalau tidak punya cerita konflik, hehe. Sinetron tanpa konflik saja bagai makan tanpa piring, bahkan bukan cuma “bagai minum kopi tanpa gula” saja, tapi “laksana minum kopi tanpa gelas”. Di setiap cerita pun akan selalu ada karakter protagonis dan antagonis untuk menghidupkan alurnya. Di dunia politik pun ada pihak  yang pro dan selalu ada pihak yang oposisi. Di jagad bumi sekalipun, pasti ada dua kekuatan besar yang saling sensitif, yang satu melihara nuklir – yang satu lagi gelisah dinuklir. So, tanpa konflik, hidup bukanlah hidup, tul? Yang penting kita perlu tahu bagaimana caranya mengendalikan diri dalam konflik, atau istilahnya manajemen konflik, supaya persoalan tidak menjadi lebih besar dan tentunya lebih sulit diselesaikan.

Merunut kisah konflik biasanya sangat mudah karena setiap konflik selalu akan membekas kuat di ingatan. Tidak peduli kapan waktunya, bahkan mungkin sejak kita kecil. Biasanya hanya ada dua jenis orang yang akan selalu kita ingat, pertama orang yang paling baik dan kedua orang yang paling menyebalkan. Nah, tentang konflik, tentu ada orang yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menguji kita. Hmm, kira-kira siapa saja yah?

You must not fight too often with one enemy,  or you will teach him all of your art of war – Napoleon Bonaparte

Kalau saya, dengan menglasifikasikannya per lingkungan sekolah, tempat kita melangsungkan aktivitas interaksi sosial, maka di tiap jenjang pendidikan ada saja konflik-konflik yang tak terlupakan. Teringat saat SD pernah berantem hebat, kebetulan mayoritas siswa sekolahnya anak Cina. Sekolah itu adalah SD F. Tandean di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Karena kesal digangguin terus-terusan akhirnya saya yang saat itu kelas 5 SD berkelahi juga, pukul sana-pukul sini, sambil membela harga diri di hadapan teman sebangku saya, seorang yang cantik nan jelita, saya tendang sana-tendang sini, hingga akhirnya dilerai dan dibawa ke ruang guru juga. Dalam perebutan kekuasaan saat itu saya kalah, hehe. Sebelum saya pulang, guru memerhatikan ada pendarahan di mata saya, dan sedikit khawatir. Saya pun pulang ke kantor ayah yang tempatnya bersebelahan dengan sekolah. Melihat kondisi saya, seorang teman kantor ayah naik pitam dan langsung mengajak beberapa orang untuk mendatangi rumah teman saya tadi. Di depan rumahnya, teman ayah saya itu berteriak lantang, “mau macam-macam saya bakar rumah kalian!” (Note: waktu saya SD, jamannya Cina vs Pribumi, setahun sebelum tragedi 1998). Akhirnya, setelah fight fire with fire, omel-omel dan bentak-bentak, orang tua teman Cina saya itu minta ampun dan berjanji mengganti seluruh biaya dokter saya.

Kedamaian bukanlah karena tidak adanya konflik, tapi kemampuan untuk menghadapi konflik – Mahatma Gandhi

Berikutnya waktu SMP, kelas 1 dan 2 SMP saya di Medan. Kisah konflik tidak terlalu berkesan karena saya berteman dengan penguasa SMP, hehe, tapi bener dia itu seorang anak nakal yang residivis sekaligus pengedar. Alhasil, kekuasaan cukup membentengi saya dari orang yang tidak suka dengan saya. Bahkan, kami pun menguasai beberapa tempat pusat perbelanjaan. (Hehe, preman cilik). Lain cerita waktu saya kemudian pindah ke Bandar Lampung untuk melanjutkan kelas 3 SMP. Suatu ketika saat pulang sekolah, saya berjalan bersama 2 orang teman melintasi tempat sepi. Tiba-tiba kami dihadang 3 anak preman terminal yang usianya sedikit lebih tua dari kami. Preman itu mendatangi kami sambil berkata, “Bos, tolongin gue dong sandal gue putus neh, minta duit dong!” Saya cuekin saja sambil melintas, eh mereka ngamuk, hehe. Tanpa saya tahu, dia menarik saya dari belakang. Saya berhadapan dengan ketiga preman itu sedang kedua teman saya lari. Terpaksa saya layani, saya pukul-sana dan pukul-sini, dia pukul-sana dan pukul-sini, tas saya pun ditarik-tarik, baju putih seragam saya pun robek. Saya melihat ke belakang, ada warung di belakang saya, melihat kondisi tidak imbang akhirnya saya pun loncat kebelakang dan diselamatkan bapak warung.

He that fights and runs away, may live to fight another day

Ketika SMU di Sukabumi, ada satu perkelahian fisik juga. Waktu kuliah, hampir saja dengan si botak penunggang vespa, alhamdulillah keburu dilerai oleh sang ibunya preman. Hmmm. Cape deh. Namanya konflik, ada saja penyebabnya. Selain konflik yang perlu melibatkan fisik sebagai resolusi tentu kita juga pernah mengalami konflik emosional, konflik yang berlaku ketika keilmuan serta pemahaman kita tentang konflik meningkat, hingga kita merasa tidak perlu menyelesaikan perbedaan dengan kontak fisik yang tak perlu. Karena perbeaan adalah fitrah, keniscayaan, sekaligus cobaan dari Sang Maha Segala.

Konflik adalah ketidaksepahaman yang alami, perbedaan yang muncul dari individu ataupun kelompok yang terpisah oleh perbedaan kepercayaan, sikap, nilai, ataupun kebutuhan. Ada 5 fase dalam terjadinya sebuah konflik, pertama prelude to conflict, awal mula konflik yaitu variabel yang memungkinkan terjadinya konflik, kedua triggering event atau adanya pemicu kejadian, ketiga initiation phase, fase inisiasi yang terjadi saat sekurang-kurangnya satu orang yang terlibat mengetahui bahwa ada konflik, keempat diffrentiation phase, fase yang memperkuat alasan masing-masing pihak, kelima integration stage/resolusi, tahapan saat kedua pihak yang berkonflik memahami satu sama lain untuk mengurai kemungkinan-kemungkinan solusi.

If you want to make peace, you don’t talk to your friends. You talk to your enemies – Moshe Dayan

Untuk mengakhiri sebuah konflik yang hebat serta dahsyat, atau konflik yang berkepanjangan, mau-tidak mau perlu menghadirkan pihak ke tiga. Pihak yang dianggap oleh kedua pihak sebagai penengah. Dalam tata hukum ada pengadilan, hakim, jaksa, pengacara, dll. Di lingkup terkecilpun demikian saat anda atau kamu berkelahi kelak janganlah lupa perlu orang ketiga yang memiliki fungsi resolusi. Hehe. Tidak hanya pada kegiatan konflik, pada kompetisi atau perlombaan yang melibatkan dua atau lebih pihak pun memerlukan wasit.

Apakah sajakah penyebab konflik? Biasanya kesalahan komunikasi, adanya kepentingan pribadi atau golongan yang dipaksakan, adanya perbedaan nilai, perbedaan tujuan, perbedaan metodologi, kurangnya kerjasama, perbedaan kepemilikan, perbedaan tanggungjawab, kompetisi, dsb. Btw, di semua lini aspek kehidupan pun akan kita temui konlik, ada konflik antar komunitas, konflik diplomasi, konflik ideologi, konflik internasional, konflik interpersonal, konflik organisasi, konflik militer, konflik data, konflik ras, suku, dan keyakian. Kucing juga berantem.🙂

Konflik selalu mengutubkan dua subjek yang berbeda, satu di pihak yang benar – satu lagi di pihak musuh yang salah, dan masing-masing mengaku benar lalu saling menghakimi yang lain sebagai musuh yang salah. Lalu mana yang benar? Mana musuh yang nyata? Kata Allah musuh yang nyata adalah setan. Maka ada baiknya sebelum memusuhkan musuh kita, kita lihat siapa yang lebih setan diantara kita, kemudian beristighfar, lalu berusahalah menempatkan musuh kita sebagai partner dialog dan ladang inspirasi, memberinya peluang untuk tidak menjadi setan, sekaligus menahan diri untuk menjadikan musuh sebagai setan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Hujurat (49): 11-12]

Sebelum konflik dilaksanakan, ada baiknya kita selalu ingat pesan Nabi,  bahwa salah satu calon penghuni surga adalah dua orang manusia yang  hanya bertemu dan hanya berpisah semata karena Allah.

🙂🙂🙂

Dengan kaitkata , , , , ,

6 thoughts on “Berkelahi

  1. fadziyahzaira mengatakan:

    betul. konflik perlu dibincang, difikirkan jalan penyelesaiannya bersama2.🙂

  2. Ega Dioni Putri mengatakan:

    dosen Komunikasi Antarpersonal saya berkata, konflik jangan selalu dilihat sebagai suatu hal yang negatif, karena konflik sebenarnya juga punya nilai positif…

    terkait hal ini, menurut saya ada benarnya juga, konflik bisa jadi malah konstruktif krn dengannya kita bisa belajar menyelesaikan masalah di dalamnya, belajar menghargai perbedaan, mendorong introspeksi diri, dan sebagainya…

    nice post anyway!

  3. […] } Kunjungan balasan ke blog miphz yang bermula dari komentarnya di blog ini menyadarkan saya akan sesuatu. Opini penulis mengenai […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: