Tarian Kerinduan

Waktu terus berpacu, kesempatan kian kikis. Aku diselimuti sayup-sayup kerinduan, ternyata aku kehilangan.

Alhamdulillah, pagi ini saya dikembalikan untuk merindu sekalipun saya merasa tak pantas mendapatkannya. Merindu kembali ke wilayah yang menjadi tempat di mana semestinya saya bernaung, sebuah ruangan di mana semestinya saya berteduh, suatu titik di mana semestinya saya berlabuh. Alhamdulillah, Dia telah menciptakan “rindu” agar kita mengerti makna perpisahan. Alhamdulillah, telah Engkau jadikan “rindu” supaya kami memahami arti jarak yang memisahkan.

Kerinduan itu kembali hadir untuk kesekiankalinya, kembali menyapaku di himpitan sesaknya penjara, di ruang sempit yang mencengkeram. Aku rindu, aku kehilangan, aku merayap mencari-cari sesuatu yang membuai layar hatiku. Menjadi gelisahku, apakah gerangan luka di kalbu. Menjadi kisahku, bayangan hitam yang menjelma semu. Menjadi rinduku, untuk kembali menata ujung-ujung hariku.

Teringat olehku betapa tetesan air mata mengurai tangis kekasih sang Nabi kala melihat suaminya berpayah mensyukuri nikmat-Nya. Di sepertiga malam itu kerinduan sang Nabi berhasil melampaui betapa perih kakinya menapak bumi, melantunkan munajat yang semata untuk mencintai. Sang kekasih pun menggelar tanya bahwa betapa sesungguhnya sang Nabi terjaga dari segala dosa. Akhirnya sang Nabi pun berkata bahwa tak pantaskah dirinya mensyukuri limpahan sayang-Nya.

Merindu adalah memesrai, usaha mengukur berbagai kemungkinan yang menjadikan kita tak sebanding. Keperluan menilai bermacam ketimpangan yang membuat kita memiliki hijab yang memisahkan. Seolah tak ada habisnya, kerinduan menjadikan dua titik yang terpisah untuk dipertemukan oleh segaris asa.

Di gelapnya hutan yang tak bertumpu ini, aku disapa kerinduan yang menerangi. Aku berjalan sambil mencari apa yang tersembunyi, mengais serpihan waktu yang telah ku lalui. Sungguh berat, walaupun aku tak menemukan sesuatu kecuali bayanganku sendiri, bagian gelap dari berkas cahaya yang tertahan oleh kemunafikan. Aku tersedu,  menangis, aku kehilangan, aku merindu.

Langkahku terhenti, aku ingin menggenggam sesuatu. Jiwa ini gersang dipenuhi oleh debu, aku tergeletak di hamparan oase yang mebuatku tertunduk. Dari titik ini aku menatap dengan bimbang, jauh ke ruang yang dipenuhi kerinduan. Ada sesuatu yang memaksaku untuk kembali, aku hanya ingin mencair oleh hangatnya kerinduan itu. Dengan segala paksa, aku memeras fikir untuk melangkah, mendirikan benteng untuk menghalau segala luka,  semua ketakutan, setiap apa yang membatasiku untuk menjelma menjadi titik kerinduan. Jujur, jiwa ini kering oleh angkuh yang bergelimang nafsu dunia, menjadikan getirnya kian mengangkasa, bahkan aku kira ruangan ini tak dibungkus masa lalu, dan ternyata aku salah. Tapi sungguh, kerinduan ini telah mengantarkanku pada serpihan asa, titik keyakinan bahwa Dia masih selalu memberiku kesempatan untuk menghela nafas, untuk menjemput kasih-Nya, Sang Maha Pengampun.

Aku hanyalah kisah-kisah yang tak punya arti, penggalan mimpi yang tak memiliki saksi. Aku hanyalah waktu-waktu yang tak punya makna, sepotong usia yang tak punya kemudi. Aku hanyalah kenangan-kenangan yang tak punya pesona, ruang kosong yang yang hampir mati.

Aku ingin kembali, aku ingin pulang, aku ingin bermesraan. Aku tak lagi kuasa menahan tata kehancuran yang kubangun sendiri. Aku, aku, aku merindu. Aku tak mampu lagi menahan terpaan api yang bergemuruh membakarku. Aku ingin bernaung di sana lagi. Aku ingin berteduh di sana lagi. Aku ingin berlabuh, merindu hingga habis di sana.

miphz – saat jiwa sudahi kisah lalu

Dengan kaitkata , , , , , , ,

6 thoughts on “Tarian Kerinduan

  1. Rindu mengatakan:

    I miss you too mas … hahaha *dibekep, salah ngomong*

  2. Rindu mengatakan:

    Ehm.. baru nyadar tampilan blognya sama dengan blog saya🙂

  3. Sugeng mengatakan:

    ya, rindu memang lukisan yang terindah dan ruang yang ternyaman,
    di sana sayatan luka terasa manis …
    Trims telah mampir di blog saya tempo hari🙂

  4. ahmad fauzi mengatakan:

    salu atas kekuatannya dalam menuangkan kisah.salam kenal. mampir diblog saya ya kalau ada waktu. saya ingin berbagi cerpen-cerpen singkat saya di situ. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: