Tukang Ojek, Preman, dan Tukang Parkir

Malam itu saya masuk ke Alfamart dengan sedikit tidak nyaman karena banyak tukang ojek berkumpul dan ternyata menjadikan parkiran di Alfamart itu sebagai base camp mereka.

Hmm, ngapain sih ini orang-orang ngumpul gak jelas, gak ada kerjaan lain apa? Main catur, main kartu, sok preman!

Hampir 1/2 dari tempat parkir habis dipakai tukang ojek, 1/4 nya lagi dipakai buat area jualan/sewa tempat pedagang makanan. Parkiran buat customer cuma 1/4 ditambah dengan tatapan “sok kuasa” yang tidak mengenakkan dari para tukang ojek.

Saya memang bukan pemilik franchise Alfamart di pertigaan Gerlong Hilir – Setiabudhi Bandung itu, tapi ya tetep aja ada sesuatu yang mengganggu ketertiban dan kenyamanan. Kira-kira apa ya?

Menurut saya ya kembali lagi karena alasan ekonomi. Premanisme, tukang parkirisme, pengemisme, pengamenisme, tukang ojekisme adalah indikator paling riil di perkotaan yang bisa dipakai untuk mengukur tingkat kesejahteraan dan atau tingkat perekonomian suatu kelompok masyarakat.

Kalau boleh diurutkan dari rendah ke tinggi, tingkatan gengsi pekerjaan ekonomi lemah (yang sering terlihat) di sektor informal yang banyak dijadikan pilihan masyarakat kota:

1. Pengemis

2. Pengamen

3. Tukang parkir

4. Tukang ojeg

5. Preman dan atau preman merangkap pengamen/tukang parkir

Yah, serendah-rendahnya profesi menurut penilaian kita, semuanya demi anak dan istri. Bagaimana seandainya kita berada di posisi mereka?

Walau bagaimanapun, tidak ada orang yang bercita-cita menjadi tukang ojek, preman, pengamen, atau tukang parkir. Tapi kerasnya kehidupan menjadikan pilihan hidup mereka semakin sempit.

Tentunya banyak faktor yang bisa dijadikan penilaian, lalu ini semua salah siapa? Salah dinas sosial? Salah pemerintah? Salah dinas tenaga kerja? Salah Gayus Tambunan? Salah presiden? Istri presiden? Ah, mending kita salahkan diri sendiri terlebih dahulu.

Motorcycle Taxi, kata orang bule. Kalau di kota besar apalagi di Jakarta, Ojek bisa menjadi alternatif untuk mempercepat waktu tempuh alias “biar gak kena macettt! gan …”

Dengan kaitkata , , , , ,

2 thoughts on “Tukang Ojek, Preman, dan Tukang Parkir

  1. Adda mengatakan:

    sedih juga melihat kondisi negara ini.semoga ada solusi untuk mengatasi permasalahan seperti ini.saya sendiri kadang suka bermaslah dengan tukang parkir yang merangkap preman.

    • miphz mengatakan:

      hehe, saya udah baca tulisan om …

      bener tuh, pungli di indonesia bisa menghasilkan 2 triliun pertahun … kalo dikumpul2 bisa bikin perusahaan padat karya …

      tapi ya, tetap lebih enak jadi preman, santai duit ngalir …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: